INFO LOWONGAN KERJA TERBARU KLIK DISINI

Gincu, Garam Dan Susu

Ketiga benda tersebut di atas sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari, khususnya bagi kaum perempuan. Gincu, kini orang menyebutnya lipstik, ialah salah satu jenis kosmetika yang dipergunakan oleh sebahagian kaum wanita sebagai penghias bibir. Warnanya umumnya merah, atau warna lain yang lebih mencolok dan simpel terlihat. Menurut penuturan wanita yang sering menggunakan gincu, rasanya tidak ada. Gincu hanya melekat di bibir pemakainya, tidak mempunyai rasa. Walaupun nampak terang ketika digunakan akan tetapi sipemakainya sendiri justru tidak sanggup melihat bagaimana gincu itu di bibirnya ketika dipandang orang.

Garam, merupakan pemberi rasa asin terhadap makanan, hasil olahan dari air laut. Harganya murah, akan tetapi sangat memilih lezat-tidaknya suatu hidangan. Garam ketika digunakan larut bersama makanan. Rasa asinnya gres terasa apabila masakan yang dibumbuhi garam tersebut dicicipi.

Perempuan ketika berdandan boleh tidak menggunakan gincu, akan tetapi setiap orang kalau memasak  harus  membumbuhi masakannya dengan garam. Ringkasnya gincu bergotong-royong hanya pelengkap, sedangkan garam penentu rasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang di antara kita ada yang berbuat dan melaksanakan aktifitasnya mengambil filsofi dari gincu dan garam! Yang berfilosofi garam, mengutamakan dan mengedepankan aspek formalitas dan popularitas dalam setiap aktifitasnya. Semua yang beliau lakukan baik secara langsung maupun kolektif harus sanggup dilihat dan disaksikan oleh orang banyak sekedar untuk memperoleh ratifikasi dan atau pujian, kendatipun kemudian hanya sebatas show, tidak sanggup memberi manfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang yang melihatnya. Yang penting apa yang beliau lakukan sanggup dilihat dan disaksikan orang! Celakanya, banyak orang yang justru terbuai oleh warna-warna ‘gincu’ yang ditonjolkan oleh orang.

Sebaliknya, hanya sedikit di antara kita yang rela memegang filosofi garam. Orang yang memegang filosofi garam, dalam berbuat dan beraktifitas mementingkan manfaat apa yang dilakukan baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Berbuat bagi orang tipe ini tidak harus diketahui oleh orang lain,  bahkan kalau perlu merahasiakan identitas dalam berbuat baik, tetapi yang penting baginya ialah azaz manfaat pada setiap perbuatannya.

Dalam bahasa agama Islam, orang yang berfilosofi gincu biasa disebut riya’, yaitu sikap mental pamer dan ingin dipuji. Orang menyerupai ini sangat berbahaya, berbuat hanya menginginkan popularitas dan mengabaikan manfaat dari apa yang diperbuatnya. Allah swt. Dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad saw. menegaskan bahwa sikap mental riya merupakan salah satu bentuk syirik:

   "Sesungguhnya yang amat kutakuti dari segala hal atas kalian ialah syirik kecil. Para sobat bertanya. “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Riya. Allah azza wa jalla akan berkata kepada orang-orang yang riya kelak di hari kiamat: Pergilah kau sekalian kepada apa yang kau jadikan materi riya di dunia. Lihatlah apa yang kau semua memperoleh akhir dari mereka yang kepadanya kau memamerkan amalanmu?. Hadis riwayat Ahmad dan al-Baihaki.

Orang yang berfilosofi garam, dalam istilah agama Islam disebut ikhlas, yaitu seseorang yang senantiasa berbuat berangkat dari motif yang lurus tanpa mengharapkan imbalan dari hasil perbuatannya. Biasanya orang tipe ini ketika berbuat kebajikan selalu berupaya menyembunyikan perbuatannya, paling tidak mereka tidak menonjolkan perbuatannya itu, namu  perbuatan tersebut memberi manfaat baik terhadap dirinya maupun terhadap masyarakat.

Agama kita menginginkan semoga umatnya berperilaku sebagaimana filosofi garam, yaitu tidak menampakkan diri dalam setiap aktifitasnya, tetapi yang lebih penting manfaatnya. Bahkan evaluasi Allah terhadap perbuatan kita bukan pada apa yang tampak, melainkan motif yang ada dibalik perbuatan kita itu. Nabi Muhammad saw. dalam hadisnya meyebtukan:

Sesungguhnya Allah swt. tidak menilai terhadap fisik dan penampilanmu, melainkan kepada hati (niat) dan perbuatanmu. Hadis riwayat Imam Muslim.

Dari hadis ini nampak terang bahwa Allah tidak menilai aspek formalitas pada perbuatan kita, melainkan motif dasar munculnya perbuatan tersebut serta manfaat perbuatan tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sudah muak dengan penampilan orang-orang dan sekelompok orang yang sepintas bagai pahlawan, namun kepahlawanannya tidak lebih dari penampilan gincu; terlalu banyak teori, konsep dan aktivitas yang dikemukakan sekedar untuk menarik simpati publik namun tidak ada realisasi. Orang berperilaku menyerupai ini tidak menyadari bahwa formalisasi dan publikasi yang berlebihan ihwal ‘kebajikan’ seseorang justru mengaburkan dan menghilangkan rasa (manfaat) dari suatu perbuatan. Hanya sesaat dan tidak memberi rasa apa-apa, dan hanya sedikit orang yang mau berbuat kebajikan tanpa diketahui oleh orang lain.
Filosofi Susu

Susu, untuk kelompok elit (Ekonominya terliLIT, atau Ekonominya suLIT) masih dipandang sebagai barang elit (mewah). Warnanya putih. Biasanya dicampurkan bersama minuman atau masakan ekstra. Di minuman atau masakan mana saja yang diberi susu, akan tampak warna dan rasa susu itu, sekalipun sedikit.

Susu mungkin salah satu benda yang mewakili sikap pertengahan antara filosofi gincu dan filosofi garam;  semua orang menyebut susu itu enak! Makanan dan minuman kalau diberi susu rasanya makin nikmat! Kalau bercampur dengan masakan atau jenis minuman ia tidak kehilangan identitasnya, melainkan turut menghipnotis warna makanan/minuman di mana ia ditambahkan. Itulah susu, selain keberadaannya sanggup nampak, juga sanggup menambah rasa!

Alangkah indahnya hidup ini, apabila umat Islam sanggup bermental susu; sanggup memperlezat kehidupan, menghipnotis masyarakat dengan warna dan rasanya, minimal simpel mengikuti keadaan dengan kondisi lingkungan tanpa harus kehilangan identitas, dan yang paling penting keberadaannya benar-benar dirasakan! 

Al-Qur’an tidak menafikan bahwa mental susu itu mempunyai efek positif, yaitu semoga sanggup diikuti oleh orang lain sekaligus mengajak orang lain gemar melaksanakan sebagaimana yang telah dilakukannya, walaupun dengan menyampaikan amalan itu sanggup mendekatkan kepada ancaman riya. Oleh lantaran itu, Allah swt. memberi kebanggaan terhadap mental garam dan mental susu, dengan mendahulukan mental susu dalam firman-Nya:

Jikalau kau menampakkan sedekah-sedekahmua, maka itulah yang terbaik. Tetapi kalau kau semua menyembunyikannya dan kau berikan kepada fakir miskin, maka itu lebih baik bagimu. QS. al-Baqarah (2): 271.

Agama Islam ialah agama kemanusiaan. Oleh lantaran itu, semua ketentuan agama yang berbentuk perintah dan larangan semuanya bermuara pada kepentingan manusia. Dengan demikian semua perbuatan kebajikan pun harus sanggup memberi manfaat kepada insan dan bagi kepentingan kemanusiaan. Kita sanggup berbuat atas dasar agama tanpa harus memamerkan apatah lagi mempublikasikan perbuatan baik tersebut. Perbuatan kita pun sanggup dirasakan oleh orang lain tanpa harus mengetahui siapa yang telah melakukannya.

Memang ada hal-hal tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menyampaikan (mempublikasikan) perbuatannya, yaitu untuk menjadi pola dan toladan bagi orang yang menyaksikannya. Bila suatu ketika kita berbuat menyampaikan perbuatan kita kepada orang lain dengan niat semoga menjadi contoh, maka kita telah menciptakan satu sunnah (tradisi kebaikan). Yang demikian lebih baik ketimbang merahasiakannya. Sehubungan dengan perbuatan kebajikan yang diperlihatkan kepada orang lain dengan maksud semoga dijadikan contoh, Nabi Muhammad saw. mengatakan:

Barang siapa yang melaksanakan suatu sunnah (tradisi perbuatan kebaikan atau keburukan), maka ia akan memperoleh ganjaran (kebaikan atau keburukannya) dan (ganjaan kebaikan atau keburukan) bagi setiap orang yang mengikuti tradisi yang telah diperlihatkannya. Hadis riwayat Muslim.
Wallahu A’lam bi al-Sawâb.

INFO LOWONGAN KERJA TERBARU KLIK DISINI

Iklan Atas Artikel


Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2


Iklan Bawah Artikel